Wednesday, May 14, 2014

Fake People?

Hello peeps!

I have no current activities, so yeah, I might spend my time on this blog sharing my thoughts from a deep mind /what/

Okay, akhir-akhir ini gue ngga punya kegiatan penting. Jadi, kerjaan gue di rumah cuma doing housework, reading novels, thinking, thinking, thinking, and sometimes, daydreaming.

Selama kelas sembilan ini, gue banyak berpikir. Gue mulai berubah. Berubah dalam arti kata bertransisi. Dan sekarang, dengan bergaul dengan banyak teman dan karakter yang berbeda-beda, gue bisa menyimpulkan mana diantara mereka yang real dan yang fake.

Yah, mungkin karena gue sudah menjalani hidup 3 tahun di SMP, berganti-ganti kelas, teman, dengan karakter mereka masing-masing. And I just realized, that I have no real friends.

Bisa dikatakan gue punya banyak teman dan kenalan di sekolah. Gue tipe orang yang pendiam, semua orang bilang gue pendiam. Padahal sebenernya sih ngga. Gue malah ngga suka dan udah merasa jenuh dibilang begitu. Dan rata-rata orang yang bilang begitu ke gue adalah orang yang ngga terlalu deket dan jarang ngobrol sama gue. Lagian, hellooo, kita jarang ngobrol jadi why you consider me as the quiet one?

Well, disini gue mulai tau mana orang yang hanya gunain gue di saat mereka butuh sesuatu tapi nganggep gue ngga ada di saat mereka ngga butuh. Those people are really piss me off.

Gue ngerasa kayak ban serep, digunain pas dibutuhin doang. Kalo ngga butuh, yaudah, dianggep ngga ada.

And there are also some people, dimana saat mereka curhat, gue mendengarkan dengan antusias, bahkan memberikan solusi buat mereka, panjang lebar, kali tinggi. Di saat gue curhat? Yaudah, mereka denger ogah-ogahan, boro-boro ngasih solusi. 

Gue butuh teman curhat, teman yang bisa gue mintain pendapat, teman yang ada di saat gue butuh mereka, bukan cuma ada pas di saat mereka butuh gue.

Gue malah lebih sering asyik bermain dengan pikiran-pikiran gue, dan mungkin, itu sebabnya orang bilang gue pendiam. Sebenarnya, bukannya pendiam, ya cuma kalau gue ngomong selalu dikacangin, ya mending gue ngomong sama diri gue sendiri.

Iya, gue tau gue aneh. Bukan cuma itu aja sebab gue jadi pendiam. Semenjak remaja, ngga tau kenapa gue ngga punya self-confidence. Untuk keluar rumah aja, gue ngga punya rasa percaya diri, apalagi untuk ngobrol sama orang. Gue jadi kayak orang yang anti-social. 

Bahkan, pernah gue ngerasa males buat ke sekolah karena harus berinteraksi sama orang. Gue bahkan berpikir untuk punya private class, dimana muridnya cuma gue doang. Kalau gue anak Will Smith, jelas bisa. Bahkan gue bakal dateng ke sekolah naik jet (ini apa banget dah HAHA). "Sepi dong, ngga ada yang diajak ngobrol?" Yah, keadaannya sama aja kalau di kelas ada 30 orang, tapi gue tetep ngerasa 'sendiri'.

Mungkin gue sudah memasuki dunia misanthrope??? Yaa, bisa dibilang begitu. 

Gue masih stick sama temen lama gue, temen gue sejak TK dan SD, dimana pas gue ngobrol sama mereka, gue ngerasa nyaman dan nyambung. 

Well, mungkin ini cuma gue doang yang ngga mudah bergaul. Gue udah mencoba buat berinteraksi. Tapi ya begitu, no one wants to talk with me. Yaudahlah, kembali ke diri gue sendiri lagi.

But still, I feel so lonely.



Saturday, May 10, 2014

A LITTLE PIECE OF NATIONAL EXAM

HELLO EVS!

Ok, I just finished this important and memorable test in my whole junior school's life. Yeah, National Exam aka Ujian Nasional.

How was my National Exam going? Well, don't ask me about this. I'm shaking you know. SHAKING. My heart crying and screaming. During MATH.

Iya sih, pas awal-awal soalnya masih mudah. Pas masuk ke nomor 20 ke bawah,
.
.
.
.
.
I almost lost my breath. Especially for the 21th question. Yes, soal PISA. Soal Internasional. Yang paragraf pertamanya panjang banget, dan pertanyaannya cuma sebaris.

baca soalnya aja udah kenyang-_-





"Subhanallah," cuma bisa bilang begitu.

30 menit sebelum bel, gue belum selesai ngerjain. Temen di depan gue udah nangis. Gue mikir, apa yang bikin soal puas udah bikin kita nangis, kalang kabut, ngerjain soal? Gue rasa perlu dipikir lagi memasukkan soal yang semacam itu ke dalam Ujian Nasioanal, yang jelas ngga ada di SKL.



mungkin ini sneak-peek dari munculnya soal Internasional di UN

Kalau memang nyatanya Indonesia berada di urutan tingkat ke 2 paling bawah kemampuan matematika dan sains, bukan begitu caranya, dengan tiba-tiba memasukan soal yang jelas belum kita ketahui dan kita kuasai. Seharusnya, sistem pembeljarannya yang harus diperbaiki.



Well, sebenernya cuma mau mengeluarkan uneg-uneg yang ngga bisa disampaikan secara langsung kepada orang lain, yeah because i have no friends.

Cuma bisa tawakal dan berdoa, semoga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Aamiin.




cheerio! x