Wednesday, June 7, 2017

Night Talk

Ramadan 1438, malam ke-13, 22:21.

Malam ini gue pengen meluapkan isi dari hati dan pikiran gue, yang sepertinya susah kalau gue ungkapkan dengan berbicara ke orang lain. Jadi, lebih baik kalau gue luapkan saja ke dalam tulisan di blog ini. Yaa walaupun gue yakin ngga ada yang baca, atau bahkan tau blog gue ini wkwk.

Sekarang status gue berada dalam masa tentatif. Anak siswi SMA udah bukan, mahasiswi pun juga belum. Iya, gue lagi menunggu pengumuman SBMPTN, bersama dengan 790-an ribu anak lainnya. Ngga kerasa, hal yang jadi momok menakutkan bagi gue sejak masuk SMA sudah gue lalui. Alhamdulillah dengan lancar. InsyaAllah gue bisa termasuk ke dalam 16% yang lolos SBMPTN tahun ini, aamiin.

Kalau diingat-ingat, kelelahan, kecemasan, serta air mata yang ngga jarang tumpah selama gue berjuang dalam dua bulan terakhir menjadi hal yang gue rindukan saat ini. Masa dimana gue harus bangun jam 6.30 pagi dari Senin sampai Sabtu, dan jam 07.00 sudah harus ada di tempat bimbel. Hari-hari yang biasanya gue awali dengan pertanyaan, "Kapan ya, bisa istirahat?" atau "Mungkin ngga sih, gue bisa lolos nanti?" atau "Dimana gerangan gue bakal melanjutkan pendidikan gue?". Benar-benar bulan yang penuh dengan konflik batin. But still, hari-hari gue jalani dengan semangat, walau masih ada setitik kegalauan di hati. Ngga jarang gue tiba-tiba nangis, ragu akan diri gue sendiri, pilihan-pilihan gue, potensi gue.

Luckily, gue dikelilingi dengan lingkungan yang selalu men-support gue. Kata-kata penyemangat dari nyokap gue dikala gue kelepasan nangis di depan beliau, terpatri di dalam benak gue.

"Kak, kakak kan udah berusaha. Udah belajar, berdoa juga udah. Tiap kakak berangkat bimbel pun Mama juga selalu berdoa dalam hati, 'Ya Allah, semoga anakku bisa diterima di PTN dan jurusan yang dia inginkan, semoga dia bisa dapat yang terbaik.'... Rezeki ngga kemana kak, kalo emang udah rezekinya, pasti dimudahin sama Allah. Tawakal aja".

Wah, benar-benar menjadi penyemangat gue kala itu.

Benar juga, gue udah mengusakan sebaik yang gue bisa, tinggal Allah yang menentukan. Apapun hasilnya nanti, itu pasti yang terbaik bagi gue dari Allah. Ia Maha Mengetahui mana yang terbaik bagi hamba-Nya, toh?

Makin kesini, gue makin berpikir. Untuk apa gue takut akan mimpi gue? Untuk apa gue takut dengan kegagalan? Bagaimana Allah mau mengabulkan mimpi gue, kalau dalam setiap langkah gue berjuang selalu ada rasa takut? Gue pernah baca suatu kalimat, kira-kira bunyinya seperti ini:

"Takut itu berarti, kamu tidak percaya akan kuasa Tuhan. Bagaimana Tuhan percaya kamu pantas mendapatkan apa yang kamu minta sementara kamu selalu takut untuk melangkah?"

And now it's a slap on my face.

Come again, why must I feel so afraid of failure? And doubt is never the save option, either.

random pic of me walking in the middle of pine trees lol